Makalah  Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                                         Medan,   April  2021

PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT DI KPH BANYUWANGI UTARA

 

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Oleh:

Abigail Naftali Gultom

191201142

HUT 4A

 

 

 


 








 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan perlindunganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah yang berjudul “Pemanfaatan Sumberdaya Hutan oleh Masyarakat di KPH
Banyuwangi Utara” ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyelesaian Makalah ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen Pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi dengan baik dan benar.

Penulis juga sadar bahwa penulisan Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari penyusunan materi dan tata penulisan. Oleh karena itu, penulis sangat menghargai setiap kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan Makalah ini. Semoga Makalah ini dapat bermaanfaat bagi siapapun yang membacanya.

 

 

                                                                                                                 Medan,   April 2021

 

 

                                                      Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hutan sendiri dalam terminologi kehutanan memiliki definisi yang beragam. Namun, ada beberapa kesamaan pemahaman mengenai hutan, diantaranya bahwa hutan adalah suatu kumpulan pepohonan yang mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Sebagai contoh jika kita berada di hutan hujan tropis misalnya, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan lembab, yang berbeda daripada daerah perladangan di sekitarnya. Pemandangannya atau corak hutan juga berlainan. Hal tersebut berarti segala tumbuhan dan hewan (hingga mikroorganisme), serta beraneka unsur abiotik (benda tak hidup) termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari hutan (Nurrochmat, 2015).

Hutan sebagai sumberdaya alam yang terbarukan, memiliki berbagai manfaat penting bagi keberlangsungan hidup mahluk hidup. Pengelolaan hutan yang baik harus dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat, pengelola hutan dan stakeholders serta lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, pengelolaan hutan yang baik juga harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian hutan, seperti: aspek ekologi, produksi, serta sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar hutan. Adanya masyarakat yang tinggal di sekitar hutan yang mempunyai akses langsung maupun tidak langsung terhadap kawasan hutan serta memanfaatkan sumberdaya hutan adalah suatu realita yang tidak bisa diabaikan. Kondisi ini tentunya akan berdampak positif maupun negatif terhadap kelestarian hutan. Kegagalan pengelolaan hutan yang terjadi selama ini bukan disebabkan oleh faktor teknis semata namun lebih disebabkan oleh faktor sosial. Oleh karena itu, pengelolaan hutan yang baik tidak hanya memperhatikan aspek teknis pengelolaan hutan, namun juga harus memperhatikan aspeksosial (Bahruni, 2011).

Kehidupan masyarakat desa sekitar hutan tidak bisa dipisahkan dari keberadaan hutan tempat mereka menggantungkan hidupnya. Tingginya angka kemiskinan dan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi permasalahan besar dalam pembangunan hutan. Tekanan terhadap hutan terus meningkat serta tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan hidup dan penyediaan lahan untuk areal pemukiman dan fungsi-fungsi lainnya menjadi lebih besar. Implementasi kegagalan pengelolaan hutan akan berdampak pada meningkatnya deforestasi hutan. Paradigma baru dalam pengelolaan dan pembangunan hutan yang melibatkan masyarakat merupakan harapan baru untuk dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dalam pembangunan kehutanan. Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya hutan sangat tinggi, namun sejauh ini belum diketahui secara pasti jenis dan besaran nilai manfaat yang diperoleh masyarakat dari hasil pemanfaatan sumberdaya hutan tersebut (Fauzi dan Anna, 2013)  .

Sumber daya hutan yang berdiri sendiri. Istilah yang terdekat dengan sumberdaya hutan adalah sumberdaya hayati yang mencakup sumberdaya genetik, organisme atau bagiannya, populasi atau komponen biotik-ekosistem-ekosistem lain dengan manfaat atau nilai nyata atau potensial untuk kehidupan manusia. Sumberdaya hutan merupakan bagian dari sumberdaya alam. Sumberdaya alam dalam beberapa referensi didefinisikan sebagai semua yang terdapat di alam (kekayaan alam) yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, sumberdaya hutan dapat didefinisikan sebagai semua yang terdapat di alam yang berupa hutan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya (Purnawan, 2016).

1.2 Rumusan Masalah

1.      Bagaimana karakteristik masyarakat desa sekitar KPH Banyuwangi Utara?

2.      Jenis-jenis sumberdaya hutan apa saja yang dimanfaatkan oleh masyarakat?

3.      Bagaimana nilai manfaat sumberdaya hutan bagi masyarakat?

1.3 Tujuan Masalah 

      1.      Untuk mengetahui karakteristik masyarakat desa sekitar hutan?

2.      Untuk menegetahui jenis-jenis sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat?

3.      Untuk mengetahui nilai manfaat sumberdaya hutan bagi masyarakat?



BAB II

ISI

2.1 Karakteristik Masyarakat Desa Sekitar KPH Banyuwangi Utara

Tingkat pendidikan masyarakat desa di sekitar hutan RPH Sumberwaru dan RPH Sumberejo pada umumnya masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari sebagian besar masyarakatnya yang hanya menempuh jenjang pendidikan tingkat SD, bahkan ada juga masyarakat yang tidak tamat SD. Kondisi ini tentunya mengakibatkan ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan menjadi sangat besar. Tidak semua masyarakat di tiap-tiap dusun berlatar belakang pendidikan rendah, ada sebagian masyarakat yang telah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan, keterampilan dan informasi yang dimiliki oleh masyarakat desa sekitar hutan juga menyebabkan masyarakat sulit untuk bersaing dan memasuki pasar lapangan kerja secara umum. Pilihan pekerjaan sebagai pemanfaat sumberdaya hutan merupakan satu-satunya alternatif yang dipilih karena profesi sebagai pemanfaat sumberdaya hutan tidak mensyaratkan tingkat pendidikan maupun keterampilan tertentu, sehingga tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan menjadi sangat besar.

Profesi sebagai petani paling banyak digeluti oleh masyarakat di Dusun Sekarputih, Desa Sumberanyar. Sedangkan profesi sebagai buruh tani paling banyak digeluti oleh masyarakat di Dusun Blangguwan, Desa Sumberwaru. Sebagian besar petani di Dusun Sekarputih adalah petani ladang yang sangat tergantung pada hujan, sehingga dalam satu tahun hanya terjadi dua kali masa panen. Untuk Dusun Cotek, Mimbo, dan Nyamplung yang merupakan wilayah paling utara dari kedua desa ini, sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Profesi sebagai wiraswasta yang terdiri atas pedagang, pengrajin, pertukangan, dan jasa banyak digeluti oleh masyarakat yang tinggal di Dusun Krajan, dan Dusun Cotek Desa Sumberwaru, serta Dusun Curahtemu, Dusun Ranorejo, Dusun Bindung, Dusun Mimbo, dan Dusun Nyamplung Desa Sumberanyar. Jika dilihat dari tingkat pendidikannya, masyarakat yang tinggal di dusundusun tersebut sebagian besar hanya berlatar pendidikan SD, namun tidak sedikit pula masyarakat yang sudah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

2.2 Jenis-Jenis Sumberdaya Hutan Yang Dimanfaatkan

Pemanfaatan sumberdaya hutan terbesar terjadi pada komoditas rencek/
kayu bakar dan rumput. Di Desa Sumberwaru pemanfaatan rencek yang berasal dari hutan Perum Perhutani mencapai 45% dari total responden di desa tersebut, sedangkan di Desa Sumberanyar pemanfaatan rencek mencapai 42,47%. Pemanfaatan komoditas rumput menempati urutan kedua terbesar setelah rencek, dengan persentase pemanfaatan yang mencapai 40% di Desa Sumberwaru. Untuk Desa Sumberanyar, pemanfaatan rumput menempati urutan pertama terbesar, hal ini disebabkan selain karena banyaknya masyarakat yang memiliki hewan ternak terutama sapi dan kambing. Pemanfaat komoditi rumput terbanyak terjadi di Dusun Sekarputih yang mencapai 90% dari total responden di dusun tersebut. Mayoritas masyarakat Sekarputih memanfaatkan rumput dari hutan RPH Sumberejo tepatnya di wilayah Kendeng Timur Laut (KTL). Untuk Dusun Curah temu dan Dusun Ranorejo, persentase pemanfaat rumput hanya sebesar 30% dari total responden di dusun tersebut, hal ini dikarenakan sebagian besar penduduknya memanfaatkan rumput dari areal pertanian dan hutan rakyat.

Pemanfaatan komoditi biji akasia arabika yang berasal dari hutan Perum Perhutani terbesar dilakukan oleh masyarakat di Desa Sumberanyar, dengan persentase pemanfaat sebesar 36,99% dari total responden di desa tersebut. Pemanfaatan madu mayoritas dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Dusun Sekarputih Desa Sumberanyar, tercermin dari persentase jumlah pemanfaat madu yang mencapai 20%. Untuk jenis komoditi biji kemiri dan kedawung, pemanfaatnya hanya berasal dari Dusun Sekarputih Desa Sumberanyar dan Dusun Blangguwan desa Sumberwaru. Hal ini disebabkan selain kedua dusun tersebut wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan lindung yang merupakan lokasi pemanfaatan jenis komoditi tersebut, juga akses untuk mencapai lokasi ini lebih jika mudah ditempuh dari kedua dusun tersebut, walaupun jaraknya cukup jauh dari pemukiman penduduk.

2.3  Nilai Manfaat Sumberdaya Hutan Bagi Masyarakat

Nilai manfaat sumberdaya hutan diperoleh dengan mengalikan nilai manfaat dari setiap jenis sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat (Rp/unit) dengan besarnya volume pemanfaatan yang dilakukan oleh masing-masing responden (unit). Sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa sekitar hutan sebagian besar dinilai berdasarkan pendekatan harga pasar, namun untuk nilai manfaat rumput dihitung berdasarkan pendekatan nilai korbanan dari masingmasing responden seandainya sumberdaya rumput tidak ada. Pada jenis komoditi Rencek didapat nilai pemanfaatan 159.048.000 Rp/th dengan persentase 25,53%. Pada komoditi Rumput nilai pemanfaatan 379.344.000 Rp/th dengan persentase 60,89%. Pada jenis biji Acacia nilotica nilai pemanfaatan 71.848.100 Rp/th dengan persentase 11,53%. Pada komoditi biji Kedawung nilai pemanfaatan 7.502.000 Rp/th dengan persentase 1,20%. Pada komoditi madu nilai pemanfaatan 4.325.002 Rp/th dengan persentase 0,69%. Pada komoditi biji Kemiri nilai pemanfaatan 977.500 Rp/th dengan persentase 0,16%. Jadi nilai total manfaat sumberdaya hutan bagi masyrakat di KPH Banyuwangi Utara sebesar 623.044.602 Rp/th.

Besarnya nilai kontribusi sumberdaya hutan terhadap pendapatan rata-rata rumah tangga menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan yang ada di daerah tersebut sangat tinggi. Nilai kontribusi sumber daya hutan terbesar terjadi pada masyarakat yang bertempat tinggal di Dusun Sekarputih Desa Sumberanyar yang mencapai Rp 9.082.283,00/tahun atau sebesar 64,51% dari total pendapatan rata-rata rumah tangga. Nilai kontribusi terbesar kedua terjadi pada masyarakat yang tinggal di Dusun Blangguwan Desa Sumberwaru, yaitu sebesar Rp 5.392.400,00/tahun, atau 50,76% dari total pandapatan rata-rata rumah tangga masyarakat yang tinggal di dusun tersebut. Untuk Dusun Sidomulyo, nilai kontribusinya lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai kontribusi sumberdaya hutan yang berasal dari kawasan hutan TN Baluran, yang mencapai Rp 6.581.867,00/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Sidomulyo lebih banyak memanfaatkan sumberdaya hutan yang berasal dari hutan TN Baluran daripada hutan Perum Perhutani KPH Banyuwangi Utara.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.    Pilihan pekerjaan sebagai pemanfaat sumberdaya hutan merupakan satu-satunya alternatif yang dipilih karena profesi sebagai pemanfaat sumberdaya hutan tidak mensyaratkan tingkat pendidikan maupun keterampilan tertentu, sehingga tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan menjadi sangat besar

2.    Nilai pemanfaatan dan persentase terbesar di KPH Banyuwangi Utara adalah komoditi rencek dengan nilai pemanfaatan 159.048.000 Rp/th dan persentase 25,53%.

3.    Nilai pemanfaatan dan persentase terendah di KPH Banyuwangi Utara adalah dari komoditi kemiri dengan nilai pemanfaatan 977.500 Rp/th dan persentase 0,16%.

4.    Nilai total manfaat sumberdaya hutan bagi masyrakat di KPH Banyuwangi Utara sebesar 623.044.602 Rp/th.

5.   Nilai kontribusi sumber daya hutan terbesar terjadi pada masyarakat yang bertempat tinggal di Dusun Sekarputih Desa Sumberanyar yang mencapai Rp 9.082.283,00/tahun atau sebesar 64,51% dari total pendapatan rata-rata rumah tangga.

3.2 Saran

Sebaiknya  pemanfaatan sumberdaya hutan di KPH Banyuwangi Utara agar lebih dikembangkan lagi tidak hanya dari segi hasil hutannya tetapi pemanfaatan dari segi pariwisata dan estetika hutan juga merupakan hal yang perlu dipertimbangkan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bahruni. 2011. Penilaian Sumberdaya Hutan dan Lingkungan. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Birgantoro, Bakti Abu, Dodik R N. 2017. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan oleh Masyarakat di KPH Banyuwangi Utara. JMHT, 13(3): 172

Fauzi, A., Z. Anna. 2013. The complexity of the institution of payment for environmental services: A case study of two Indonesian PES schemes. Ecosystem Services, 1(6).54-63.

Nurrochmat, D.R. 2015. Strategi Pengelolaan Hutan. Upaya Menyelamatkan Rimba yang Tersisa. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Purnawan, R. 2016. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Sebagai Ekoturism Berbasis Kemasyarakatan. Surili, 2 (39): 14.

 

 

Komentar

  1. informasinya bermanfaat, terima kasij

    BalasHapus
  2. sangat bermanfaat, terimakasih

    BalasHapus
  3. informasi sangat bermanfaat👍👍

    BalasHapus
  4. Saya menjadi mengerti bagaimana karakteristik warga desa di sekitaran hutan.sangat bermanfaat👍

    BalasHapus
  5. Sangat bermanfaat bagi masyarakat dan terkhusus mahasiswa kehutanan👍🙏

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat, menambah wawasan dalam hal mengelola sumber daya.

    BalasHapus
  7. Sangat bermanfaat infonya, terimakasih bang

    BalasHapus
  8. Mantap sekali, informasinya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  9. Semoga pemanfaatan sumberdaya di Indonesia dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya tanpa merusak hutan

    BalasHapus
  10. mantap informasinya sangat bermanfaat👍🏻 terimakasih abi

    BalasHapus
  11. Uaa Terima kasih infonya sangat membantu

    BalasHapus
  12. Terimahkasih atas pengetahuan dan informasi sangat membantu

    BalasHapus
  13. Mantap adinda,
    Salam Lestari!

    BalasHapus
  14. kalau di luar negeri biasanya kepentingan industrial memiliki lahan sendiri untuk di olah dan membedakan mana hutan untuk penghijauan , baiknya kita bisa memanfaatkan waktu senggang dengan belajar Kursus Bahasa Inggris Bisnis

    BalasHapus

Posting Komentar